Thursday, 19 January 2017
Trending Topics:
Friday, 14 Oct 2016 - 13:23 wita

Petugas Hotline Harus Perlakukan PRT/PRTA Seperti Keluarga

Editor: yani - celebesonline.com
img-20161014-wa0017
()

CELEBESONLINE, Makassar – Para petugas layanan hotline bagi pekerja rumah tangga (PRT) dan pekerja rumah tangga anak (PRTA) harus memiliki standar operasional pelayanan yang lebih spesifik lagi jika harus sop lainnya dalam bidang layanan. Bahkan para petugas layanan hotline diharapkan bisa memiliki sensivitas dan empati saat memberikan layanan.

Penegasan ini disampaikan Fadiah Mahmud selaku Ketua Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Sulsel di sela-sela sosialisasi kerja layak pekerja rumah tangga (PRT) dan penghapusan pekerja rumah tangga anak (PRTA) bagi petugas layanan/hotline dan mitra di Hotel Kenari Makassar, Jumat (14/10/1016).

Fadiah menegaskan, petugas layanan harus bisa menempatkan diri saat menerima aduan sehingga yang mengadu bisa merasakan adanya empati dan rasa nyaman serta aman saat mengadukan masalah mereka. “Kita berharap adanya kesamaan persepsi dan pemahaman bagaimana memberikan layanan hotline termasuk tindak kekerasan bagi anak dan perempuan,” ujarnya.

Dia menegaskan bahwa pengaduan dan rujukan sangat penting sehingga korban bisa mendapat perhatian dan mendapat advokasi atas aduannya. Lebih jauh Fadiah menjelaskan bahwa perlu adanya kerjasama dengan segenap stake holder untuk menangani masala PRT/PRTA yang ada didaerah ini.

Karenanya selama ini pihak LPA sudah menjalin kerjasama dengan bidang pemberdayaan perempuan dan anak Pemrov Sulsel, ILO dan Jarak. Perlunya perhatian khusus terhadap PRT/PRTA juga diungkapkan oleh Kepala Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Sulsel Andi Murlina.

Dalam sambutannya Murlina menegasuzkan bahwa saat ini banyak anak yang bekerja, baik itu di jalan maupun menjadi PRTA dan ini perlu mendapatkan perhatian. Para PRT/PRTA sangat rentang mendapatkan kekerasan dan diskriminasi dalam melaksanakan pekerjaan mereka.

Karenanya pihaknya telah membentuk Tesa untuk layanan telpon dan pengaduan, serta adanya P2PT2A yang bisa memberikan layanan pengaduan bagi korban dan diskriminasi.

“Harus disadari bahwa para PRT/PRTA sangat rentan mendapat perlakuan yang tidak meyenangkan, dan ini harus mendapat perhatian bersama,” ujarnya.

Dia menegaskan bahwa PRT/PRTA harus diberlakukan seperti keluarga sendiri dan secara manusiawi. Dia berharap dengan adanya pelatihan ini makin meningkatkan kompetensi bagi para petugas layanan dan hotline dalam menjalankan tugasnya.

Kegiatan ini diharapkan bisa menghasilkan SOP pelayanan yang lebih empaty dan sensivitas bagi para korban.(*)

Komentar Anda

Komentar saat ini: komentar.