Thursday, 30 March 2017
Trending Topics:
Thursday, 13 Oct 2016 - 18:27 wita

Maulwi Saelan, “Beton Putih” Itu Telah Pergi (3)

Editor: Amir Pallawa Rukka - celebesonline.com
Maulwi Saelan
Maulwi Saelan
()

CELEBESONLINE (Makassar): Wartawan senior Dahlan Abubakar menulis tentang Maulwi Saelan, mantan kiper tim nasional Indonesia yang wafat Senin, 10 Oktober 2016. Penulis buku “Ramang Mana Bola” ini sempat bertemu dengan Maulwi di Jakarta. Berikut tulisannya yang diambil dari akun Facebook Dahlan Abubakar:

Sebagai kiper, Maulwi dikenal berpembawaan tenang. Ia selalu berkonsentrasi pada bola dan gerakan pemain lawan. “Seorang kiper harus berkemauan keras untuk memelihara kondisi badan dan berlatih teratur dan kontinyu,” Majalah Olympic edisi 27 Juni 1983 menulis mengenai tokoh ini.
Maulwi sempat bergabung dengan Indonesia Muda Bandung tahun 1951. Ketika itulah dia dipanggil memperkuat PSSI guna menghadapi Asian Games I di India. Pelatihan Nasional (Pelatnas) dilaksanakan di Yogyakarta dengan pelatih Choo Seng Que asal Singapura. Maulwi sebagai kiper kedua setelah Bing Moheng dari Surabaya.

Menghadapi Asian Games II, Maulwi juga dipanggil. Hanya, kesibukannya sebagai tentara mengurangi porsi latihannya hingga gagal dikirim ke Asian Games di Manila, Filipina tahun 1954 .

Ketika PSSI mencatat sejarah menahan kesebelasan Uni Soviet 0-0 di Olimpiade Melbourne 1956, Maulwi tampil sebagai penjaga gawang kesebelasan nasional. Dia menjadi salah satu bintang yang berhasil menggagalkan tendangan pemain Soviet menggetarkan jala Indonesia. Pers asing menyebut Maulwi sebagai ‘benteng beton’ yang sudah ditembus pemain Soviet.

Maulwi menikahi Tjitji Awasih yang memberinya enam orang anak. Tiga di antaranya putri. Ketika Bung Karno menjadi Presiden RI, dia tercatat sebagai salah seorang pengawal yang dikenal dengan anggota pasukan Cakrabirawa. Dia memperoleh pendidikan militer di Port Gordon, Amerika Serikat pada tahun 1959 dan 1960. Juga mengikuti pendidikan pasukan para di Batujajar, Jawa Barat.

Ia berhenti dari karier militernya dengan pangkat terakhir kolonel. Maulwi beralih sebagai tokoh pendidikan dengan mendirikan Perguruan Islam Al Azhar. Juga menjadi ketua beberapa yayasan social seperti Yayasan Haji Amin Saelan (1975), Yayasan Shifa Budi (1975), dan Yayasan Pendidikan Islam Al Azhar bagian Kesehatan.

Pada tahun 1964-1967, Maulwi dipercaya sebagai Ketua Umum PSSI dan terus aktif sebagai anggota Dewan Penasihat.PSSI.

Maulwi menjalani pendidikan antara lain, Frater School Makassar, HBS Makassar, Tokubetsu Tjugako, SMA C Makassar, Physical Security, The Provost Marshal General’s School, Fort Gordon-USA.

Sebelum kemerdekaan sampai kemerdekaan RI sebagai Pemimpin Harimau Indonesia dan Pimpinan Laskar Pemberontak Rakyat Indonesia Sulawesi (LAPRIS). Pada tahun 1949-Maulwi Saelan berpangkat Letnan Satu Polisi Militer TNI AD, Yogyakarta, 1949-Perwira POM Komisi Militer Teritorial Indonesia, 1951-Komandan Detasemen CPM, Bandung; 1952: Komandan detasemen CPM, Purwakarta; 1953 : Komandan Detasemen CPM Makassar; 1954 :Wakil Komandan Batalyon VII CPM, Makassar; 1962 :Komandan POMAD PARA; 1962 :Komandan POMAD TJADUAD/MANDAL/TRIKORA, Makassar; 1962 : Kepala Staf Resimen Tjakrabirawa, Jakarta; 1963: Pangkat Kolonel, wakil Komandan Resimen Tjakrabirawa; dan 1966: Ajudan Presiden RI Bung Karno.

Setelah pertemuan 10 Januari 2011 itu, saya kemudian menyambanginya di kediamannya di Jl. Bendungan Jatilihur No.111 Jakarta Pusat pada tanggal 10 Agustus 2011, setelah pada malam harinya, buku “Ramang Macan Bola” diluncurkan begitu meriah dan semarak di Wisma Menpora Jakarta. Saya menitipkan kalau tidak salah dua eksemplar buku yang saya tulis. Saya tidak mau berlama-lama, karena maklum benar beliau harus istirahat setelah baru kembali dari sekolahnya di Jl. Kemang Raya No.7.

Kepergian Maulwi Saelan, boleh jadi hanya tinggal satu atau dua orang saja tim tangguh Indonesia di Olimpiade Melbourne 1956 yang tersisa. Bahkan mungkin “Benteng Beton” yang mengakhiri hayatnya dalam usia 90 tahun itu, satu-satunya sisa “laskar Indonesia” di Australia itu. Selamat jalan ‘pahlawan’ olahraga nasional, yang membuat Indonesia pernah harum namanya di lapangan hijau tepat 60 tahun silam…(*)

Komentar Anda

Komentar saat ini: komentar.