Friday, 24 March 2017
Trending Topics:
Thursday, 13 Oct 2016 - 18:14 wita

Maulwi Saelan, “Beton Putih” Itu Telah Pergi (2)

Editor: Amir Pallawa Rukka - celebesonline.com
CELEBESONLINE Maulwi Saelan
Maulwi Saelan
(dokumen pribadi)

CELEBESONLINE (Makassar): Wartawan senior Dahlan Abubakar menulis tentang Maulwi Saelan, mantan kiper tim nasional Indonesia yang wafat Senin, 10 Oktober 2016. Penulis buku “Ramang Mana Bola” ini sempat bertemu dengan Maulwi di Jakarta. Berikut tulisannya yang diambil dari akun Facebook Dahlan Abubakar:

“Oh..Pak Dahlan, ya,” sahutnya, kemudian saya langsung memegang tangannya dan menggandengnya hingga ke bagian belakang sekolah. Jaraknya dengan tempat dia turun dari mobil sekitar 30-40 meter. Saya melepas tangannya ketika kakinya telah melangkah naik ke tegel yang sejajar dengan ruang kantornya, bersamaan dengan seorang gadis kecil yang berlari ‘menghadang’-nya dan langsung menggaet tangan sang mantan penjaga gawang nasional ini. Di ruang kerjanya itulah saya menghabiskan waktu sekitar 90 menit berbincang-bincang tentang Ramang dan kiprahnya bersama sang pemain legendaris tersebut.

Pada saat pertemuan itu, Pak Maulwi Saelan juga mengungkapkan keinginannya menulis memoarnya. Saya sampaikan, sangat senang jika dipercaya menulis memoarnya. Namun, saya kemudian menemukan di toko buku, memoir tersebut telah ditulis oleh salah seorang sejarawan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Jakarta. Jika tidak salah buku itu berjudul “Pengawal Terakhir Bung Karno”. Buku tentang almarhum yang lain adalah “Dari Revolusi ’45 Sampai Kudeta ’66 : Kesaksian Wakil Komandan Tjakrabirawa” (2002). Buku yang kedua ini sangat menarik dibaca, karena berkisah tentang riwayat hidup almarhum dengan suka-dukanya. Buku ini saya tidak temukan lagi di toko buku, karena stok yang ada di perpustakaan pribadi saya diboyong ayah ke kampung halaman, karena beliau juga membuat perpustakaan kecil di rumah tempat saya lahir. Meskipun diisi separuh dari 26 buku yang saya tulis.

Nama Maulwi Saelan kondang karena kepiawaiannya mengawal gawang kesebelasan nasional. Yang paling spektakuler dan itu sebabnya dia disebut sebagai ‘beton putih’, ketika kesebelasan Indonesia menahan gempuran tim Beruang Merah Uni Soviet 0-0 pada pertandingan Olimpiade Melbourne Australia, 1956. Penampilan Maulwi Saelan dan Ramang di Australia ini menjadi sangat monumental, sehingga FIFA melalui laman resminya 26 September 2012 memperingati seperempat abad meninggalnya Ramang, menyebut pemain legendaris asal Makassar ini sebagai inspirator sepakbola Indonesia tahun 1950-an.

Maulwi Saelan sebenarnya, mulai berlatih sepakbola bukan sebagai penjaga gawang, melainkan untuk posisi penyerang. Pria kelahiran Makassar 8 Agustus 1926 ini pertama memasuki klub Main Oentoek Sport (MOS) di Makassar.

Tidak lama setelah berhenti, MOS tiba-tiba membutuhkan seorang penjaga gawang. Anak kedua dari delapan bersaudara pasangan Amin Saelan-Sukartin ini dites.

“Saya coba jadi kiper, dites dan ternyata lulus,” ungkapnya.

Dalam usia yang masih muda, 17 tahun, Maulwi sudah terpilih sebagai penjaga gawang Makassar Voetball Bond (MVB), yang kelak menjadi cikal bakal Persatuan Sepakbola Makassar (PSM). Situasi yang tidak memungkinkan, Maulwi berhenti lagi bermain bola. Tahun 1943, Jepang datang, mengusir Belanda dari Indonesia. Maulwi pun ikut berjuang. Dia pun ikut bergerilya.

Sepanjang tahun 1945 dia ada di hutan-hutan. Tahun 1946 dia hengkang ke Jawa dan tinggal di Yogyakarta. Dia bergabung dengan Angkatan Darat dan memperoleh pangkat Letnan Satu. Karena bakat sepakbolanya masih tersisa, dia kemudian bergabung dengan Persatuan Sepakbola Indonesia Mataram (PSIM). Posisinya sebagai kiper kedua di bawah Komaruddin.

Saat PON I digelar di Solo 1948, banyak pemain Jakarta yang tinggal di Klaten. Maulwi pun ikut bergabung di bawah bendera Jakarta. PSIM juga tak keberatan dia bergabung dengan tim Jakarta.

BERSAMBUNG

Komentar Anda

Komentar saat ini: komentar.