Thursday, 30 March 2017
Trending Topics:
Thursday, 06 Oct 2016 - 9:58 wita

LPA Sosialisasi Penghapusan PRTA Lewat Pengajian

Editor: Apriani - celebesonline.com
()

CELEBESONLINE, Makassar – Majelis Taklim Ulul Ilmi Kompleks Jipang Permai Makassar rutin melakukan pertemuan bulanan yang diisi dengan zikir dan ceramah agama. Yang menarik dan agak berbeda bulan ini adalah pertemuan rutin itu diisi dengan sosialisasi Penghapusan  Pekerja  Rumah tangga Anak (PRTA) bekerja sama dengan Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Sulsel.

Kegiatan sosialisasi penghapusan PRTA ini adalah tindak lanjut dari lokakarya penguatan peran tokoh agama dalam mempromosikan kerja layak bagi PRT dan penghapusan PRTA yang telah dilakukan sebelumnya pada tanggal 4 Mei 2016 di hotel Remcy Makassar.

Sebagai tindak lanjut dari lokakarya tersebut, LPA ingin memastikan bahwa komitmen peserta lokakarya untuk terus menyuarakan isu penghapusan PRTA terus berkelanjutan.

Dihadapann para peserta pengajian, Warida Safie dari LPA Sulsel, menyampaikan beberapa poin penting terkait keberadaan PRT anak.
Dia menjelaskan bahwa PRTA dikategorikan sebagai salah satu bentuk pekerjaan terburuk bagi anak yang berusia dibawah usia 18 tahun.

Mengutip data ILO, Ida, sapaan Wahida, menyampikan bahwa berdasarkan analisis data Survey angkatan Kerja Nasional (Sakernas) diasumsikan terdapat 110.000 anak usia 15 – 17 yang bekerja sebagai PRT dari total 2,5 juta orang PRT di Indonesia pada tahun 2012. Jumlah ini tentunya  terus bertambah jika tidak ada pengawasan dari instansi yang berwenang.
 
“Hal ini dikarenakan PRTA bekerja di ruang-ruang domestik sehingga sangat sulit untuk dipantau. Kondisi ini tentu membuat mereka sangat rentan mengalami kekerasan dan eksploitasi dari majikan atau siapa saja yang berada didalam rumah majikan.” ujar Ida Rabu (5/10/2016).

PRTA juga melakukan pekerjaan yang seharusnya dilakukan oleh orang dewasa seperti memasak, mencuci, mengepel, menjaga bayi dan bekerja di bawah jam kerja yang sangat panjang. Hal ini tentu akan berdampak buruk terhadap hak anak untuk tumbuh kembang dengan baik dan mengenyam pendidikan.

Selain itu, hak anak atas kesehatan dan bersosialisasi dengan lingkungannnya tentu dilanggar jika dipekerjakan sebagai PRT. Dan anak juga paling rentan mengalami kekerasan (fisisk, fsikis dan seksual) dan eksploitasi.

Kasus-kasus demikian akan sangat mudah didapati melalui pemberitaan di berbagai media. Sedang menanggapi
Pertanyaan salahsatu peserta. Terkait kemana dan apa yang harus dilakukan bila menemukan kasus PRTA.

Ida merespoan bahwa persoalan PRTA memang masalah lintas sektor (pemerintah, Non Pemerintah, masyarakat dst) yang sebaiknya ditangani secara bersama. Ditambahkan bahwa, hal yang utama yang harus dilakukan adalah membangun komitmen personal untuk tidak mempekerjakan anak-anak sebagai PRT dan jika mendapati ada PRTA maka disarankan untuk berkoordinasi dengan RT/RW setempat.

Pada kesempatan tersebut Ida membagikan brosur yang berisi informasi lengkap tentang isu PRTA dan tempat untuk melapor jika mendapati ada kasus terkait PRT Anak .

Di sesi penutupan, ketua Majelis taklim Untung menyampaikan rasa terimakasihnya atas apa yang LPA Sulsel lakukan yakni  dengan melibatkan tokoh-tokoh Agama untuk sosialisasi Penghapusan PRTA ini dan juga issu lain. Kegiatan ini sendiri dihadiri sekitar 30 peserta pengajian.(*)

Komentar Anda

Komentar saat ini: komentar.