Sunday, 11 December 2016
Trending Topics:
Saturday, 11 Jun 2016 - 20:19 wita

SIEJ Simpul Sulsel Gelar Diskusi Terkait Krisis Air di Makasar

Editor: yani - celebesonline.com

CELEBESONLINE (Makassar): Komunitas jurnalis pemerhati masalah lingkungan atau The Society of Indonesian Environmental Journalists (SIEJ) Simpul Sulawesi Selatan menggelar diskusi dengan tema “Makassar Ditengah Ancaman Krisis Air Bersih” di Mr Coffee Kafe, Sabtu (11/6/2016) sore. Kegiatan ini juga sekaligus sosialisasi keberadaan SIEJ Simpul Sulsel.

Air merupakan salah satu komponen penting dalam kehidupan. Sayangnya, dengan berkembangnya suatu daerah dengan segala aktivitas pembangunan, mengancam keberadaan air, baik dari segi jumlah maupun kualitas.

“Krisis air bersih tengah mengancam peradaban manusia, tak terkecuali di Kota Makassar. Ke depan, defisit air tawar menjadi ancaman baru,” kata Ketua Panitia Diskusi Darwin Fatir di Makassar.

Adanya perubahan iklim akibat pemanasan global makin mendukung ketersediaan air dunia kian menyusut. Akibatnya, kebutuhan sekarang dan masa datang akan lebih sulit karena masyarakat membutuhkan pangan yang jumlahnya dua kali produksi pangan saat ini.   

Kebutuhan air yang makin meningkat setiap tahun di tengah krisis lingkungan yang kian massif, patut mendapat perhatian semua masyarakat serta dukungan dari dari pemerintah.

Diskusi krisis air tersebut dihadiri Wakil Walikota Makassar-Syamsu Rizal MI, Kepala Departemen dan Advokasi Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Sulsel-Muhammad Al Amin, serta NurAsiah dari Solidaritas Perempuan (SP) Anging Mammiri.

Menurut Amin, Walhi Sulsel mencatat kebutuhan air bersih warga Kota Makassar rata-rata 150 liter/kapita/hari. Sementara pasokan air bersih yang diproduksi PDAM Makassar sejak dulu hingga kini hanya mengandalkan air Bendungan Lekopancing di Kabupaten Maros dan Bendungan Bili-Bili di Kabupaten Gowa.

“Berkaitan dengan hal itu, warga Makassar sangat tergantung dari suplai air dua daerah penyangga tersebut yang nota bene juga tergantung dari kualitas lingkungan di Maros dan Pangkep,” katanya.

Sementara itu, Nur Asiah mengatakan, dari hasil survei lembaganya di wilayah yang mengalami krisis air bersih yakni di Kecamatan Tallo dan Ujung Tanah, disadari atau tidak, maka perempuan dan anaklah yang rentan bersentuhan langsung dengan persoalan air bersih ini.   

“Mulai dari menyiapkan kebutuhan konsumsi dapur, cuci, mandi dan jadwal bulanan perempuan, sangat tergantung dengan air. Termasuk mengurus anak-anak mereka dalam masa pertumbuhan,” katanya.

“Padahal, air penting bersih penting untuk perempuan. Karena air sangat penting untuk perempuan dalam kebutuhan konsumsi domestik maupun kesehatan reproduksi.(*)

Komentar Anda

Komentar saat ini: komentar.