Thursday, 23 March 2017
Trending Topics:
Saturday, 11 Jun 2016 - 21:47 wita

Jaga Pasokan Air ke Makassar, Deng Ical: Perlu Ada Regulasi Bersama

Editor: Apriani - celebesonline.com
()

CELEBESONLINE (Makassar): Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Sulawesi Selatan mencatat bahwa kebutuhan warga Makassar terhadap air bersih mencapai 150 liter/kapita/hari. Untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan air bersih, sejak dahulu Pemerintah Kota Makassar mengandalkan PDAM sebagai satu-satunya pengelola air bersih.

Sementara PDAM Kota Makassar masih sangat mengandalkan air dari Bendungan Lekopancing (Maros) dan Bendungan Bili-Bili (Gowa) yang dikelola menjadi air bersih lalu disalurkan ke masyarakat. Artinya sumber air masyarakat Makassar sangat ditentukan oleh kualitas lingkungan hidup di Maros dan Gowa.

Tahun 1996 lalu, kualitas air sangat tinggi, baik volume maupun kualitas kandungan airnya. Tahun 2014, mulai terjadi degradasi, volume air menurun ke arah level sedang. Hal ini karena terjadi komplikasi di kawasan Karta di Maros dan Hutan Lindung di Gowa, memberikan pengaruh pada kualitas air di Makassar.

Jadi, jika ingin akses air bersih warga Makassar tetap terjamin, maka dibutuhkan upaya untuk terus menjaga kelestarian kawasan karst Maros dan kawasan hutan lindung di pegunungan Bawakaraeng-Latimojong.

“Sayangnya, kedua kawasan tersebut sangat rentan untuk dieksploitasi. Kawasan karst Maros terancam rusak dengan adanya kegiatan pertambangan di kawasan karst,” Kepala Departemen dan Advokasi Walhi Sulsel, Muhammad Al Amin, pada diskusi yang digelar SIEJ Simpul Sulsel di Makassar, Sabtu (11/6/2016).

“Begitu juga dataran tinggi Kabupaten Gowa yang terancam dengan adanya penambangan batu-pasir sungai yang memicu sedimentasi. Menjaga kelestarian kedua kawasan ini bukan saja tanggung jawab kedua kabupaten tapi butuh campur tangan pemerintah provinsi,” imbuhnya.

Amin menambahkan bahwa selain sumber daya air yang ada pada dua daerah penyangga itu yang perlu dijaga, Pemerintah Kota Makassar perlu membuat regulasi pemanfaatan air tanah.

Hal itu dinilai penting, karena sebagian besar industri jasa maupun produksi, termasuk sektor perhotelan lebih banyak menguras air tanah untuk kebutuhan usahanya.

Menyadari hal itu, Wakil Wali Kota Makassar, Syamsu Rizal MI, mengatakan bahwa perlu regulasi bersama antara Pemkot Makassar bersama Kabupaten Maros da Gowa untuk mengatur sumber daya air guna mengantisipasi krisis air.

“Suplai air bersih di Kota Makassar, sangat bergantung dari produksi Bendungan Lekopancing, Kabupaten Maros dan DAM Bili-Bili, Kabupaten Gowa. Karena itu ke depan, harus ada regulasi bersama untuk melindungi sumber day a air itu,” kata Daeng Ical, sapaan Syamsu Rizal.

“Pemerintah selaku pengambil kebijakan berkewajiban melindungi sumber air dengan membuat regulasi bersama. Persoalan air ini sangat penting, karena jika tidak dikelola dengan tepat, dapat menimbulkan bencana dan menjadi permasalahan yang serius,” ucapnya.

Sebagai gambaran, ketika tiga dari lima bendungan karet DAM Bili-Bili rusak beberapa waktu lalu, maka sebagian warga Kota Makassar merasakan dampaknya, suplay air bersih terpaksa terganggu.

Pada kesempatan itu pula, Wawali menyampaikan apresiasinya pada jurnalis pemerhati masalah lingkungan yang terhimpun dalam wadah the Society of Indonesian Environmental Journalists (SIEJ) Simpul Sulsel.

“Teman-teman SIEJ akan membantu menginformasikan dan mengoreksi terkait dengan kondisi lingkungan di sekitarnya, sehingga akan menjadi bahan acuan dan pertimbangan bagi pengambil kebijakan,” katanya.(*)

Komentar Anda

Komentar saat ini: komentar.