Tuesday, 17 January 2017
Trending Topics:
Monday, 22 Feb 2016 - 9:54 wita

Mengapa Setiap Ulang Tahun Bosowa Selalu Ada Sujud Syukur?

Editor: Amir Pallawa Rukka - celebesonline.com

CELEBESONLINE (Makassar): Tepat pada tanggal 22 Februari 2016, hari ini, Bosowa berulang tahun ke-43. Sebagai puncak dari rangkaian kegiatan ulang tahun, Bosowa mengadakan sujud syukur di Masjid Cheng Ho,  Tanjung Bunga, Makassar, sehabis shalat Ashar.

Ini tradisi rutin yang selalu diminta pendiri Bosowa,  Aksa Mahmud, kepada komisaris, direksi, dan karyawan setiap Bosowa berulang tahun. Aksa berpendapat, semua kerja keras tidak membawa kemajuan yang penuh berkat dan manfaat tanpa pertolongan Allah. Aksa juga selalu mewajibkan setiap ada kegiatan yang dilakukan perusahaan selalu disertai doa.
Aksa pernah bercerita, Bosowa selalu menghadapi tantangan tetapi selalu bisa dilewati berkat kerja keras dan doa. Kerja keras dan doa membuat segala kemudahan yang didapatkan seperti kebetulan. Padahal tidak ada kebetulan. Kemudahan dan keberuntungan adalah buah dari kerja keras dan doa.

Saat Aksa hendak mendirikan perusahaan tahun 1973, situasi ekonomi Indonesia dalam keadaan sulit. Nilai tukar Dollar AS menguat dari Rp 300 menjadi Rp 350 Dollar. Pemerintah kemudian mengeluarkan kebijakan moneter. Momentum ini yang menginspirasi Aksa mendirikan CV Moneter.

Dari mana modal awal perusahaan? Aksa memang berteman baik dengan Jusuf Kalla, aktivis mahasiswa angkatan 66, anak pengusaha kaya Hadji Kalla. Mereka Sama-sama sering turun ke jalan berdemonstrasi sebagai anggota Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAHMI). Aksa bahkan menikahi adik Jusuf Kalla, Ramlah Kalla. Aksa tak tergoda dengan kedekatan itu untuk mendapatkan modal.

Adalah Hadji Kalla sendiri yang mengajar Aksa agar lebih mandiri. Suatu ketika Aksa, Syarifuddin Husain (Occing), dan Jusuf Kalla menghadap Hadji Kalla untuk minta nasihat. Mereka dan aktivis KAHMI dapat tawaran dari Panglima Kodam XIV Hasanuddin Solihin GP supaya masuk sebagai pegawai Bulog tanpa tes. Itu hadiah Solihin atas kesuksesan mereka mendistribusikan beras untuk kalangan  tentara.

Hadji Kalla menyarankan mereka menolak tawaran itu. Pesan Hadji Kalla, jika mereka dapat uang, akan banyak yang curiga mereka korupsi meski uang itu dari hal yang halal. Ketiganya diminta untuk jadi pengusaha.

Aksa menerima pesan itu. Seusai bergabung dengan perusahaan Hadji Kalla, Aksa memutuskan berdiri sendiri. Ternyata tidak semudah dibayangkan. Bank menolak proposal kredit karena latar belakang Aksa sebagai demonstran. Setelah kesana kemari, Aksa menemukan keberuntungan. Ia tidak sengaja bertemu Oma Emang Asmadi, Kepala Cabang BNI Parepare. Oma bersedia memberikan kredit sambil menegaskan bahwa ia mempertaruhkan jabatannya atas kemungkinan risiko gagal bayar. Oma melihat pada diri  Aksa Mahmud sikap tekun dan pantang menyerah. Kredit Rp 5 juta cair. Keberuntungan? Sekali lagi: kerja keras dan doa.

Tahun 1997 Indonesia dilanda krisis moneter. Nilai tukar Rupiah terhadap Dollar AS melemah dari Rp 2.400 menjadi Rp 13.000. Bank mengalami pendarahan (bleeding) akibat nasabah yang panik menarik seluruh uangnya di bank. Bank yang kesulitan likuiditas menaikkan bunga simpanan dari 5 persen menjadi 60 persen demi ketersediaan dana.

Bosowa kena imbas. Nilai kredit Bosowa meningkat drastis karena nilai tukar Rupiah melemah. Komponen konstruksi dari luar negeri untuk proyek Semen Bosowa Maros harus ditebus dengan sangat mahal. Keuangan Bosowa dalam keadaan sangat kritis. Bunga kredit yang sangat tinggi ikut memberi beban berat . “Sebagian karyawan meminta saya terus berdoa agar Dollar AS terus menguat karena nilai ekspor Bosowa dari perusahaan hasil bumi dan tambak membuat pemasukan makin banyak. Penjualan mobil juga sangat bagus karena banyak orang kaya baru bermunculan. Mereka pengusaha tambak dan cokelat yang cepat kaya karena udang dan cokelat dijual dalam mata uang Dollar. Di sisi lain, saya diminta berdoa Rupiah normal,” kata Aksa.

Setelah situasi ekonomi kembali pulih, Semen Bosowa akhirnya bisa berjalan dan berkembang di beberapa wilayah. Satu hal yang jarang diketahui orang yakni penampakan pabrik Semen Bosowa di Maros persis seperti apa yang diperlihatkan ke Aksa seusai shalat Tahajjud saat mulai berniat mendirikan pabrik semen. “Saya melihat jelas tampak pabrik itu. Seperti di depan mata. Seolah-olah seperti inilah pabrikku jjka sudah jadi,” kata Aksa. (*)

Komentar Anda

Komentar saat ini: komentar.